PRANCIS - Mesin perekonomian Prancis tergagap seiring dengan pemangkasan pengeluaran oleh para konsumen mereka, dan berkurangnya ekspor.
Badan statistik nasional Prancis, INSEE, menyatakan, pada kuartal kedua ini, pertumbuhan ekonomi Prancis ada di level nol persen. Ekonom pemerintah sendiri memperkirakan pertumbuhan sekira 0,2 persen pada periode tersebut, padahal pertumbuhan ekonomi Prancis di kuartal pertama mendekati satu persen.
Sebelumnya, pemerintah Prancis mencoba menenangkan para investor setelah beredar argumen untuk menurunkan rating kredit Prancis yang kini ada di level AAA. Salah satunya yang dilakukan Menteri Keuangan Prancis Francois Baroin dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio RTL. Hal tersebut dilakukan Baroin untuk memutar keadaan ke kutub positif di tengah lemahnya kinerja Prancis di kuartal kedua ini.
"Bukanlah sebuah kejutan bahwa kuartal kedua lebih buruk daripada yang pertama, kami mengantisipasi ini," demikian seperti dikutip dari Associated Press (AP), Jumat (12/8/2011).
Baroin mengatakan, pemerintah tetap berpegang pada target pengurangan defisit meskipun pada angka pertumbuhan yang lebih rendah.
Bank sentral Prancis mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga kemungkinan hanya 0,2 persen. Sementara, survei bulanan bank dalam sektor industri menunjukkan, pemesanan barang dan tingkat pemanfaatan pabrik jatuh selama dua bulan berturut-turut pada Juli 2011.
Selasa, 18 Oktober 2011
IMF: Ekonomi Indonesia Melambat 0,2 Poin di 2012
Menurut International Monetary Fund (IMF) pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat 0,2 poin di 2012. "Sementara pertumbuhan ekonomi di Asia akan tumbuh (-0,3 poin) dan di Indonesia secara umum akan tumbuh (-0,2 poin)," tutur Senior President Representative for Indonesia Milan Zavadjil di Jakarta, Senin (17/10).
Pada 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi sebesar 6,3% dari 6,4% pada 2011. Namun demikian, penurunan tersebut, jelasnya, tidak perlu dikhawatirkan. Sebab, Indonesia memiliki modal yang sangat baik untuk menunjang pertumbuhan. "Selain itu, ada faktor seperti rendahnya ketergantungan Indonesia pada aset-aset Eropa dan kuatnya konsumsi domestik," tukasnya.
Kondisi terebut tidak seperti kondisi di Eropa dan AS yang mengalami perlambatan ekonomi. Tidak hanya itu, kondisi neraca keuangan Indonesia juga stabil dan masih sangat likuid. Rasio tingkat utang terhadap GDP penduduk juga wajar.
Dari sisi perbankan, Milan menilai perbankan Indonesia memiliki tingkat kredit yang tinggi, tapi masih dalam tingkat yang wajar. "Perbankan Indonesia juga sedikit memegang portofolio Eropa, jadi ketergantungannya sangat kecil," pungkasnya.
2 Profesor Amerika Raih Hadiah Nobel Ekonomi
Profesor Christopher Sims (kiri) dan Prof. Thomas Sargent, peraih hadiah Nobel di bidang Ekonomi tahun 2011 (foto: dok).
Profesor Thomas Sargent dan Christopher Sims melakukan penelitian soal keterkaitan antara keputusan kebijakan pemerintah dan ekonomi.
Thomas Sargent, 68 tahun, adalah dosen Ilmu Ekonomi di New York University. Christopher Sims, yang berusia sama, adalah Dosen Ekonomi dan Perbankan di Princeton University. Keduanya telah meneliti bagaimana dampak kebijakan ekonomi seperti naiknya suku bunga atau pemotongan pajak terhadap variabel-variabel seperti PDB dan inflasi.
Penelitian Profesor Sargent berdasarkan pada studi mengenai kebijakan inflasi pasca Perang Dunia II, di mana banyak negara pada mulanya memberlakukan kebijakan inflasi tinggi.
Penelitian Profesor Sims yang disebut analisa “vektor-auto regresi” telah digunakan untuk menjelaskan bagaimana dampak suku bunga yang ditetapkan Bank Sentral terhadap perekonomian. Gubernur Bank Sentral dan pejabat pemerintah memanfaatkan hasil penelitian kedua ekonom untuk menentukan bagaimana dampak perubahan kebijakan terhadap perekonomian.
Walaupun demikian, hasil penelitian kedua profesor ini sempat mendapat kecaman sejak krisis keuangan global pada tahun 2008, ketika pemerintah dan bank-bank sentral di Eropa dan Amerika berjuang keras mengatasi masalah ekonomi yang serius.
Danny Quah, seorang dosen Ekonomi di London School of Economics, dulunya adalah murid Thomas Sargent. Ia menyebut pemberian hadiah Nobel itu sebagai sesuatu yang cemerlang.
“Karya kedua orang ini akan menjadi sangat penting untuk membantu kita menganalisa dengan tepat cara-cara kita keluar dari situasi keuangan yang buruk saat ini," ujar Quah.
Tetapi, Sims yang berbicara lewat telepon dalam sebuah konferensi pers di Stockholm mengatakan tidaklah mudah untuk mengatasi gejolak keuangan saat ini. “Saya tidak punya jawaban sederhana apapun, tetapi saya pikir metode yang saya gunakan dan yang dikembangkan Tom penting untuk membantu kita mencari jalan keluar dari kekacauan ini," tutur Sims. "Saya pikir metode tersebut menunjukkan cara mengungkap bagaimana masalah serius ini terjadi dan penelitian baru yang menggunakan metode ini mungkin bisa membantu kita mencari jalan keluarnya."
Profesor Sargent dan Sims melakukan penelitian mereka secara independen tahun 1970-an dan 1980-an. Mereka akan berbagi hadiah sekitar 1,5 juta dolar.
Langganan:
Komentar (Atom)