Senin, 05 Desember 2011

Sumatera Akan Jadi Pusat Produksi Bahan Makanan Dunia


Konsul Jenderal Jepang di Medan Yuji Hamada (kanan) dan Sekda Provsu Nurdin Lubis mengangkat gelas minuman usai keduanya toast pada resepsi peringan HUT ke 78 Sri Baginda Kaisar Akihito di Hotel Arya Duta Medan Kamis (1/12) malam. (Berita Sore/Laswie Wakid )
* HUT Ke 78 Kaisar Jepang Akihito Diperingati Sederhana
MEDAN (Berita) : Pada abad 21 penduduk bertambah pesat dan secara keseluruhan zaman di mana bahan makanan serta energi berkurang, namun Sumatera justru akan menjadi pusat produksi bahan makanan dunia, khususnya daerah dataran tinggi Danau Toba yang subur karena terdapat abu vulknik.
“Saya pikir ini bisa menjadi pusat bahan makanan dunia, terutama pertanian organik, agroindustri, agribisnis yang sangat diharapkan bisa mendunia,” kata Yuji Hamada, Konsul Jenderal Jepang di Medan pada resepsi Hari Ulang Tahun (HUT) ke 78 Sri Baginda Kaisar Jepang Akihito di Hotel Arya Duta Medan Kamis (1/12) malam.
Hadir di sana antara lain Sekda Provsu Nurdin Lubis mewakili Plt Gubsu, konsul negara sahabat, Wakil Walikota Medan Dzulmi Eldin dan anggota DPD RI asal Sumut Parlindungan Purba.
Peringatan HUT secara sederhana itu, diawali dengan tabuhan ‘Taiko’ alat musik tradisional Jepang semacam beduk dan ‘Yosako’ tarian tradisional negara Sakura tersebut dilanjutkan lagu kebangsaan kedua negara ‘Indonesia Raya’ dan ‘Kimigayo’. Nurdin Lubis melakukan toast minuman dengan Yuji Hamada diikuti semua tamu undangan.
“Saya mohon kesudian para hadirin sekalian untuk bersama-sama mengangkat toast dan mendoakan kesehatan Paduka Yang Mulia Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta kemakmuran bangsa dan negara,” kata Hamada.
Konsul Yuji Hamada juga memperkirakan mulai tahun 2015 negara Asean akan bergabung dan akan menjadi suatu gabungan yang sangat besar di mana Indonesia yang merupakan bagian itu akan menempati posisi sangat penting.
“Seandainya asosiasi tersebut tersosialisasi dengan baik, dengan adanya persamaan budaya, komunitas Asia Pasifik hendaknya juga akan terealisir,” jelas Hamada.
Pada masa lampau, jelasnya, persekutuan dalam bidang sejarah pernah ada gabungan yang besar natara Syailendra dengan Sriwijata di Asia Tenggara dan Indonesia akan menjadi pusatnya Asia Pasifik.
Prakiraan dunia masa depan dalam era globalisasi dan borderless, kerjasama people to people dalam kehidupan sutau bangsa sangat penting. Khususnya dalam bidang ekonomi, kebudayaan dan sosial di Asia Tenggara dengan kerjasama setingkat rakyat biasa di Asia Pasifik. Begitu pula dalam bidang sejarah. “Di sini saya ingin berkomitmen dengan bapak dan ibu seklaian agar turut serta mempromosikan pertukaran kerjasama tersebut,” katanya.
Menurutnya, sejak ia bertugas di Medan pada Pebruari 2011 lalu, dia sudah bertemu banyak orang dan sudah pula berkunjung ke berbagai tempat. “Saya kagum dengan keadaan alam yang makmur, etnis beragam dan kekayaan budaya yang ada di Sumut,” ungkapnya.
Sumut menurut Hamada, mempunyai sejarah panjang yang juga merupakan pusat keberadaan Asia. “Saya pikir Sumatera Utara akan menjadi suatu lokasi yang sangat penting untuk perkembangan dunia ke depannya,” terang Hamada.
Keadaan alam Indonesia merupakan salah saty yang paling luar biasa di dunia, bahkan termasuk negara kaya dan negara strategis dilihat dari segi geopolitik. Sejak dulu, wilayah Selat Malaka merupakan pusat lalu lalang perdagangan dunia ditandai dengan adanya budaya India, Arab, Cina, melayu dan Jawa disusul masuknya budaya Amerika dan Ekropa.
Seperti miniatur dunia yang global. Hamada optimis kalau kerjasama daerah mendorong terciptanya perdamaian dunia dan inilah modal pendorong pembangunan yang kaya raya di dunia.
Hamada juga menyampaikan terimakasih kepada masyarakat Indonesia yang bersimpati kepada masyarakat Jepang pada saat terjadi gempa dan tsunami di Jepang beberapa waktu lalu. Sekarang Jepang berusaha keras untuk rekonstruksi ekonominya. (wie)


Selasa, 18 Oktober 2011

Tergagap, Ekonomi Prancis Hanya Tumbuh 0,2%

PRANCIS - Mesin perekonomian Prancis tergagap seiring dengan pemangkasan pengeluaran oleh para konsumen mereka, dan berkurangnya ekspor.

Badan statistik nasional Prancis, INSEE, menyatakan, pada kuartal kedua ini, pertumbuhan ekonomi Prancis ada di level nol persen. Ekonom pemerintah sendiri memperkirakan pertumbuhan sekira 0,2 persen pada periode tersebut, padahal pertumbuhan ekonomi Prancis di kuartal pertama mendekati satu persen.

Sebelumnya, pemerintah Prancis mencoba menenangkan para investor setelah beredar argumen untuk menurunkan rating kredit Prancis yang kini ada di level AAA. Salah satunya yang dilakukan Menteri Keuangan Prancis Francois Baroin dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio RTL. Hal tersebut dilakukan Baroin untuk memutar keadaan ke kutub positif di tengah lemahnya kinerja Prancis di kuartal kedua ini.

"Bukanlah sebuah kejutan bahwa kuartal kedua lebih buruk daripada yang pertama, kami mengantisipasi ini," demikian seperti dikutip dari Associated Press (AP), Jumat (12/8/2011).

Baroin mengatakan, pemerintah tetap berpegang pada target pengurangan defisit meskipun pada angka pertumbuhan yang lebih rendah.

Bank sentral Prancis mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga kemungkinan hanya 0,2 persen. Sementara, survei bulanan bank dalam sektor industri menunjukkan, pemesanan barang dan tingkat pemanfaatan pabrik jatuh selama dua bulan berturut-turut pada Juli 2011.

IMF: Ekonomi Indonesia Melambat 0,2 Poin di 2012


Menurut International Monetary Fund (IMF) pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat 0,2 poin di 2012. "Sementara pertumbuhan ekonomi di Asia akan tumbuh (-0,3 poin) dan di Indonesia secara umum akan tumbuh (-0,2 poin)," tutur Senior President Representative for Indonesia Milan Zavadjil di Jakarta, Senin (17/10).

Pada 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi sebesar 6,3% dari 6,4% pada 2011. Namun demikian, penurunan tersebut, jelasnya, tidak perlu dikhawatirkan. Sebab, Indonesia memiliki modal yang sangat baik untuk menunjang pertumbuhan. "Selain itu, ada faktor seperti rendahnya ketergantungan Indonesia pada aset-aset Eropa dan kuatnya konsumsi domestik," tukasnya.

Kondisi terebut tidak seperti kondisi di Eropa dan AS yang mengalami perlambatan ekonomi. Tidak hanya itu, kondisi neraca keuangan Indonesia juga stabil dan masih sangat likuid. Rasio tingkat utang terhadap GDP penduduk juga wajar.

Dari sisi perbankan, Milan menilai perbankan Indonesia memiliki tingkat kredit yang tinggi, tapi masih dalam tingkat yang wajar. "Perbankan Indonesia juga sedikit memegang portofolio Eropa, jadi ketergantungannya sangat kecil," pungkasnya.

2 Profesor Amerika Raih Hadiah Nobel Ekonomi

Profesor Christopher Sims (kiri) dan Prof. Thomas Sargent, peraih hadiah Nobel di bidang Ekonomi tahun 2011 (foto: dok).

Profesor Thomas Sargent dan Christopher Sims melakukan penelitian soal keterkaitan antara keputusan kebijakan pemerintah dan ekonomi.
 
Panitia Nobel dari The Royal Swedish Academy of Sciences telah memutuskan untuk menyerahkan Hadiah Nobel 2011 untuk ilmu ekonomi kepada Profesor Thomas  J. Sargent dari New York University dan Profesor Christopher A. Sims dari Princeton University, keduanya di AS.
Thomas Sargent, 68 tahun, adalah dosen Ilmu Ekonomi di New York University. Christopher Sims, yang berusia sama, adalah Dosen Ekonomi dan Perbankan di Princeton University. Keduanya telah meneliti bagaimana dampak kebijakan ekonomi seperti naiknya suku bunga atau pemotongan pajak terhadap variabel-variabel seperti PDB dan inflasi.
Penelitian Profesor Sargent berdasarkan pada studi mengenai kebijakan inflasi pasca Perang Dunia II, di mana banyak negara pada mulanya memberlakukan kebijakan inflasi tinggi.
Penelitian Profesor Sims yang disebut analisa “vektor-auto regresi” telah digunakan untuk menjelaskan bagaimana dampak suku bunga yang ditetapkan Bank Sentral terhadap perekonomian. Gubernur Bank Sentral dan pejabat pemerintah memanfaatkan hasil penelitian kedua ekonom untuk menentukan bagaimana dampak perubahan kebijakan terhadap perekonomian.
Walaupun demikian, hasil penelitian kedua profesor ini sempat mendapat kecaman sejak krisis keuangan global pada tahun 2008, ketika pemerintah dan bank-bank sentral di Eropa dan Amerika berjuang keras mengatasi masalah ekonomi yang serius.
Danny Quah, seorang dosen Ekonomi di London School of Economics, dulunya adalah murid Thomas Sargent. Ia menyebut pemberian hadiah Nobel itu sebagai sesuatu yang cemerlang.
“Karya kedua orang ini akan menjadi sangat penting untuk membantu kita menganalisa dengan tepat cara-cara kita keluar dari situasi keuangan yang buruk saat ini," ujar Quah.
Tetapi, Sims yang berbicara lewat telepon dalam sebuah konferensi pers di Stockholm mengatakan tidaklah mudah untuk mengatasi gejolak keuangan saat ini. “Saya tidak punya jawaban sederhana apapun, tetapi saya pikir metode yang saya gunakan dan yang dikembangkan Tom penting untuk membantu kita mencari jalan keluar dari kekacauan ini," tutur Sims. "Saya pikir metode tersebut menunjukkan cara mengungkap bagaimana masalah serius ini terjadi dan penelitian baru yang menggunakan metode ini mungkin bisa membantu kita mencari jalan keluarnya."
Profesor Sargent dan Sims melakukan penelitian mereka secara independen tahun 1970-an dan 1980-an. Mereka akan berbagi hadiah sekitar 1,5 juta dolar.